RESENSI FILM AYAT-AYAT CINTA

                                        Sutradara : Hanung Bramantyo

Seperti menonton film India begitu ketika saya menonton film ini. Film Ayat-Ayat Cinta buah dari karya tangan dingin anak bangsa Hanung Bramantyo. Walaupun tak dibumbui dengan nyanyian dan goyangan aduhai tapi film ini terasa sekali dengan film-film dari negeri Paman Thakur itu. Terkesan simbol film Hindi terasa dan terlihat. Baik dari setting pemandangannya serta mengambil shot-shot yang sering kali saya lihat di film-film Hindi. Maklum saya ini maniak film Hindi (India). Bukan itu saja di film itu (baca: Film Ayat-Ayat Cinta) banyak sekali “aroma” Hndinya. Baik dari kisah cinta sejati (soulmate), kisah anak kepada orangtuanya, dramatis, melankolis dan sentimentil serta ada konflik– kadang bisa di tebak saat pas di ending-nya Ya, begitulah yang saya lihat dari keseluruhan usai melihat film ini pada hari Jum’at, 29 Februari 2008 kemarin di Plaza Blok-M 21 pada pukul 16:30 saat film itu akan ditayangkan.

     Memang film ini beda dengan film-film sebelumnya dari sutradara yang bernama asli Setiawan Hanung Bramantyo (lahir di Yogyakarta pada 1 Oktober 1975) adalah seorang sutradara asal Indonesia. Sutradara Terbaik lewat film arahannya, Brownies tahun 2005 (untuk Piala Citra – film layar lebar). Ia juga dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik untuk film cerita lepasnya, Sayekti dan Hanafi, namun yang kemudian mendapatkan penghargaan adalah Guntur Soehardjanto. Pada Festival Film Indonesia 2007 ia kembali terpilih sebagai Sutradara Terbaik melalui film Get Married.Diantara fil-film yang mebedakan dari film tersebut adalah Get Married (2007) Legenda Sundel Bolong (2007) Kamulah Satu-Satunya (2007) Lentera Merah (2006) Jomblo(2006) Sayekti dan Hanafi(TV) (2005) Catatan Akhir Sekolah (2005), Brownies (2005)  Film ini terkesan beda (baca: Ayat-ayat CInta) dari film-film Hanung sudah-sudah.

              Memang saya melihat film ini terkesan mau cepat jadi tidak dilihat secara mendetail. Apalagi ketika tokoh utama ketiga, bernama Maria. Ketiak tokoh ini memasuki “dunia barunya” yakni memeluk Islam. Terlihat sangat terburu-buru dan kurang melihat keganjalan. Bukankah Maria sudah masuk Islam? Seharusnya tanda–maaf–salib di tangannya itu seharusnya terhapuskan. Jangan terlihat ditonjolkan saat darah segar keluar dari hidungnya Maria. Entahlah, apakah memang tidak mengetahuinya atau memang seperti keadaanya (baca: skenario). Tapi bagi saya yang menontonnya–penoton tidak puas dengan hasil karya Sutradara Terbaik 2005 itu. Sungguh disayangkan.

Hal ini juga terlihat ketika ada adegan-adegan seharusnya tidak pertontonkan malah dipertontonkan. Seperti ketika Fahri sedang memadu kasih dengan mahramnya–Aisyah di pelaminan. Duh, saya yang ngeliat adegan seperti itu khayalan saya kemana-mana mampirnya. Sungguh kenapa hal visual seperti ini di pertontonkan. Dan sengaja di perlambat agar bisa di “nikmati” oleh penonton. Itu baru sebagian ada adegan ketika Fahri saat di depan laptop ditemani Maria saat sedang bercumbu (baca:kissing) tapi tetap seperti adegan yang tadi. Sungguh menyesalkan bagi saya dua kali. Mungkin agar Hanung memberi “wawasan” untuk para penonton ikut merasakan bahwa apapun yang sudah halal bagi kita sutralah. Mau dimana saja oke. Tancap terus!Terlallu!!

Tapi ada yang yamg membuat saya bangga dengan film Hanung kali ini. Yakni mengenai tata cahaya (lighting-nya) dan visual gambarnya sungguih amazing saya katakana—tidak terlepas seperti saya katakn tadi sebelumnya. Seperti saya menonton film-film Hindi Sungguh sangat bagus Hanung menggambarkan keadaan kota Mesir. Baik dari sungai Nilnya ketika Maria menulis sebuah curhatan dirinya tentang Fahri yang tiba-tiba keluar darah dari hidungnya. Serta kubah mesjid yang diatasnya terdapat seekor burung menambah eloknya gambar film itu. Ditambah lagi ketika saat ending kematian Maria dimana Fahri bergandengan tangan Aisyah di padang pasir yang panas sekali sungguh membuat akhir dari film itu sungguh mengasyikan untuk layak ditonton bahkan kalu bisa dua kali. Seperti niat saya akan menonton film itu lagi. Entah menurut Anda seperti apa film karya dari anak bangsa bernama Hanung Bramantyo itu? Silakan Anda tonton sendiri dan resensikan sendiri.

Sumber: http://sebuahrisalah.multiply.com/journal/item/390/resensi-film-RESENSI-FILM-AYAT-AYAT-CINTA-?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: